EMILY BRAVE

Aku memutuskan untuk turun dari mobil agar dapat melihat dengan jelas keseluruhan bangunan. Angin berhembus pelan menyentuh kelopak mataku, ku pejamkan mataku sejenak untuk mempersiapkan diriku. Aku menatap kembali bangunan tersebut seraya mengepalkan tanganku.

Aku siap‘, bathinku.

===========================================================

“KRING KRING, KRING KRING” Alarm di ponselku berbunyi. Segera ku matikan alarm ponselku.

Terasa enggan untuk membuka mata, tapi ku putuskan untuk melihat jam di ponselku. Sudah pukul 3 sore, tetapi aku masih mengantuk karna semalam aku terlalu sibuk mencari informasi mengenai tempat menyeramkan yang sekiranya bisa aku kunjungi. Aku baru saja menikmati tidurku sejak pukul 9 pagi tadi. Belum terasa cukup karna aku memang memiliki banyak ‘hutang tidur’ karna rutinitas yang aku lakukan.

Aku adalah seorang Youtuber, seseorang yang gemar membagikan video di sosial media bernama Youtube. Meskipun begitu, kemampuanku belum seberapa jika di bandingkan dengan Youtuber terkenal lainnya. Aku menyukai segala hal yang menyeramkan, karna itulah aku hanya membagikan video mengenai hal menyeramkan di Channel Youtubeku. Beberapa di antaranya hanya berisi survei tentang hal menyeramkan, fakta fakta menarik makhluk halus, ada juga video di saat aku mengunjungi langsung tempat yang di yakini berhantu oleh warga setempat. Semuanya aku lakukan demi memuaskan bathinku mengenai hal-hal menakutkan. Karna kegemaranku ini, aku tumbuh menjadi seorang gadis yang tidur di siang hari dan terjaga di malam hari. Mungkin bagi orang sedikit aneh karna gadis seumuranku menyukai hal menyeramkan. Faktanya, diantara aku dan teman-teman wanitaku, hanya aku yang menyukai hal menyeramkan. Mereka lebih suka hal lain seperti kecantikan, musik atau olahraga.

Aku teringat sesuatu, aku harus segera bersiap-siap untuk ke suatu tempat. Tentunya sebuah tempat yang menarik untuk di kunjungi. Sebuah rumah tua yang sudah lama di tinggalkan oleh pemiliknya. Kemarin aku gagal mendapatkan tempat yang bagus untuk aku jadikan objek videoku. Jadi aku harap kali ini aku akan berhasil mendapatkan apa yang aku butuhkan. Untungnya temanku –Kevin-, memberikan info kepadaku mengenai tempat ini. Aku beruntung karna Kevin bersedia menemaniku kali ini. Tempatnya tidak terlalu jauh dari rumahku, perjalanan nantinya hanya sekitar 45 menit. Aku sudah tidak sabar untuk segera sampai disana.

Aku beralih memandangi tas ranselku sambil sesekali melihat isinya.

“Apa lagi ya? Hmm” aku bergumam pelan.

“Semua siap, aku akan menelfon Kevin untuk segera datang.”

”DRRRT! DRRRT!”

Rupanya telfon masuk dari Kevin. Pas sekali.

”Ly, ayo berangkat! Sudah di depan nih.”

‘Bersemangat sekali dia’ pikirku. Aku melihat dia dari jendela kamar ku, dia mendongak dan melambaikan tangan kepadaku.

“Iya nih mau turun, tunggu ya ” jawabku.

KLIK. Ku putus sambungan telfon dan segera turun dari kamarku menuju pintu masuk utama. Kulihat Kevin berdiri di samping mobilnya. Gaya berpakaiannya sama santainya sepertiku.

“Apa ada yang tertinggal?” Tanya Kevin kepadaku.

“Hmm aku rasa tidak ada” aku mecoba mengingat kembali keperluan yang harus ku bawa.

“Tidurmu nyenyak? Kantung matamu terlihat sekali”

Segera dia mengacungkan dua jari padaku sebagai bentuk damai setelah aku memicingkan mataku padanya.

“ayo pergi! sudah semakin sore” jawabku.

Aku bergegas masuk ke mobil Kevin, di susul olehnya.

Di perjalanan aku hanya memainkan ponselku, membuka beberapa notifikasi masuk di beberapa media sosial yang ku miliki. Aku menyadari sesekali Kevin menoleh ke arahku, mungkin sedang mencoba mengajakku berbicara.

“Ada apa?” Aku mulai mengajaknya bicara tanpa mengalihkan pandangan dari ponselku.

“Di rumah tua itu ada seorang laki-laki tua yang bertugas untuk menjaga keamanan sekitarnya ketika malam hari, tetapi dia tidak bersedia mengantar kita sampai ke dalam. Apa tidak masalah?”

“Menurutku itu bukan masalah selama aku masih mempunyai anjing penjaga sepertimu” Aku menoleh ke arahnya, dia tertawa keras sekali, membuatku ingin membungkam mulutnya dengan ponselku. Tapi tidak, aku lebih memilih untuk menyimpan ponselku di saku celana jeansku.

Kevin sangat baik padaku, juga sangat jahil. Kami teman baik sejak di sekolah menengah. Saat pertama kali bertemu dengannya adalah saat perayaan Halloween di sekolah kami. Dia mengejutkanku dengan topeng menyeramkan yang ia pakai. Lebih menariknya lagi, topeng beserta kostum dia pada hari itu adalah buatan tangannya sendiri. Kami cukup dekat karna memiliki hobi yang sama, hal-hal menyeramkan terasa sangat menarik untuk kami. Sejak itulah kami menjadi teman baik.

Pernah suatu hari Kevin mengatakan kepadaku bahwa dia memiliki kemampuan melihat hantu. Awalnya aku hanya menganggap dia berkhayal. Namun akhirnya kevin membuktikannya kepadaku. Beberapa kali dia menggambarkan bagaimana wujud dari hantu yang dia lihat di selembar kertas. Kevin juga menceritakan bahwa dia memiliki teman hantu, namanya Clara. Clara dan Kevin berteman sejak Kevin masih umur 8 Tahun. Tidak semua orang mempercayai Kevin. Karna kemampuannya itu, Kevin dianggap aneh dan tidak banyak yang ingin berteman dengannya. Teman-teman kami menganggap Kevin berbohong, mereka berfikir bahwa hantu itu tidak ada.

Sampailah kami pada tempat tujuan kami, Kevin menghentikan mobil tepat di depan gerbang besar dengan cat putih usang yang mulai terlihat berkarat. Aku tertegun melihat rumah tua dengan 2 lantai di depanku. Masih terlihat kokoh dan megah namun sudah usang karna termakan usia. Semak-semak tumbuh tidak terurus, tanaman berakar merambat subur hampir di setiap sisi dinding. Terdapat sebuah pohon besar yang terlihat sangat tua, ada di dekat gerbang. Daun keringnya berserakan menutupi hampir keseluruhan halaman rumah. Sangat mendukung untuk membuat aura sekitar terasa menyeramkan.

Aku merasakan ada yang tidak biasa dari rumah ini. Ada sesuatu yang membuatku merasa terpanggil untuk masuk ke dalam rumah ini. Ada apa dengan rumah ini? Dan mengapa aura dari rumah ini terasa sangat menyedihkan?

Aku memutuskan untuk turun dari mobil agar dapat melihat dengan jelas keseluruhan bangunan. Angin berhembus pelan menyentuh kelopak mataku, ku pejamkan mataku sejenak untuk mempersiapkan diriku. Aku menatap kembali bangunan tersebut seraya mengepalkan tanganku.

‘Aku siap’, bathinku.

Seorang laki-laki sekitar berumur setengah abad menyapaku, “selamat sore, Nona” sapanya ramah.

“Ah. Ya selamat sore.” Aku menoleh padanya, kami berjabat tangan. Laki-laki tua ini memiliki senyum yang cukup ramah.

Kevin menghampiri kami, ku lihat Kevin membungkukkan badannya kemudian menjabat tangan sosok laki-laki dihadapannya.

“Sore pak, saya Kevin Kim dan ini teman saya Emily Brave. Kami bermaksud untuk merekam setiap hal menarik dari rumah ini” jelas Kevin seraya menunjukkan Handycam yang sengaja kami bawa.

“Tentu saja boleh. Nama saya Lucas. Apa yang bisa saya lakukan untuk kalian?” Kami saling bertatapan.

Aku berfikir sejenak, “Bagaimana dengan menceritakan sedikit sejarah mengenai rumah ini?”

Kevin mengangguk pertanda setuju.

Tuan Lucas memandangi kami bergantian. Raut wajahnya mendadak berubah muram. Ada yang terjadi?

Advertisements

Penjaga

Saat ini aku bekerja di suatu perusahaan yang bergerak di bidang pulsa elektrik. Tidak hanya menjual pulsa elektrik, tetapi juga perdana kuota, dan voucher kuota. Bangunan tempatku bekerja adalah sebuah ruko sederhana. Bangunan dengan gaya lama, terlebih di beberapa sudut mulai terlihat usang termakan usia. Tapi dalam sisi pengelolaan sudah cukup bagus sehingga memiki beberapa cabang di beberapa kota.

Aku bekerja di salah satu bagian divisi. Ruangan tempatku bekerja ada di lantai dua. Disini terdapat dua ruangan. Dan saya menempati ruangan utama, beserta rekan kerja saya yang lain, totalnya tujuh orang. Kami bekerja shift, satu shiftnya ada tiga orang untuk bekerja di pagi hari, tiga orang lainnya untuk bekerja di malam hari, dan satunya lagi jadwal libur. Begitulah sehari-harinya.

Satu tahun lalu, sekitar bulan Januari 2017, aku mendapatkan jadwal masuk siang. Bekerja mulai jam 13:30, lalu selesai di jam 22:30. Saat itu aku mendapatkan jadwal shift dengan dua seniorku, namanya kak Oni dan bang Ido, begitu aku menyebut mereka.

Pekerjaan berjalan lancar, kami semua mengerjakan pekerjaan kami tanpa obrolan yang berarti. Sampai pada sekitar jam 20:30. Tiba tiba ada suara dari arah sudut ruangan kerja kami. Letaknya di belakang.

“BLAM!”

Suaranya sangat mirip seperti hentakan kaki yang keras. Membuat lantai yang kami pijak terasa sedikit bergetar. Aku terkejut dan berteriak.

“Allahuakbar!”

Semua rekan kerjaku hanya tersenyum.

Aku gemetar, “suara apa itu tadi?”

Salah seorang dari seniorku hanya menjawab dengan santai, “mungkin tikus”. Dia terkekeh pelan.
Aku benar-benar tidak bisa menerima jawabannya (Ya iyalah! -__-)

“masa sih kak? ga mungkin tikus bisa bikin bunyi kayak gitu”

Semua diam. Dan tidak ada hal apapun lagi terjadi setelah itu.

=================================

Facebook, media sosial yang menjadi favoritku. Tempat dimana aku bisa berbagi cerita. Entah itu mengenai ceritaku dengan temanku, cerita tentang pekerjaanku, atau yang lainnya.

Ada salah satu grup Facebook yang menarik perhatianku. Grup facebook tersebut berisi tentang hal-hal mistis. Salah satu dari hal yang ku suka. Aku termasuk member lama di dalam grup tersebut, tetapi aku lebih memilih menjadi silent reader. Ya, aku rajin membaca kiriman terbaru dari member-member di dalam grup itu. Tapi tidak berminat untuk memberikan komentar. Aku lebih menyukai untuk memberikan “klik like” sebagai penghargaanku atas usaha si penulis dalam menulis cerita.

Suatu hari aku melihat salah satu post dari member di grup mistis, dia menawarkan bantuan untuk melihat sosok makhluk halus apa yang menghuni suatu bangunan, tentunya dengan menunjukkan sebuah foto. Aku sangat tertarik untuk memberikan komentar di kirimannya tersebut.

Aku mengambil gambar dengan kamera ponselku. Memotret sudut ruangan tempat kerjaku yang pernah mengejutkanku dengan suara hantaman “kaki”.

Aku memberikan keterangan pada foto yang aku ambil, “kalo disini, kamu lihat ada apa?”

Kemudian aku melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda karna aku sempatkan untuk buka akun Facebook-ku (hehehe yang ini jangan ditiru ya).

Hitungan jam berlalu, untuk sesaat aku bisa melupakan akun Facebook-ku karna kesibukanku. Di saat jam istirahatku tiba, aku cek ponselku dan terdapat notifikasi Facebook disana. Oh! seseorang baru saja membalas komentarku. Aku rasa dia orang yang menawarkan diri untuk melihat “makhluk tak kasat mata” beberapa jam lalu. Wah! rasa penasaran menghampiriku.

Segera aku buka akun Facebookku. Aku cari dimana kolom komentarku berada. Untuk beberapa saat aku diam, tertegun dengan jawaban dari orang ini. Dia berkata,

“Di atas atap bangunan itu, ada makluk besar berwarna hijau. Dia menjaga tempat itu.”

Aku bergidik ngeri. Bulu kudukku meremang membayangkan sekilas betapa mengerikannya sosok tersebut. Pertanyaanku terjawab sudah, kemungkinan besar suara hantaman “kaki” beberapa waktu lalu adalah dari “kaki” makhluk hijau ini.

Aku lantas hanya mengucapkan “terimakasih” karna dia sudah mau menjawab pertanyaanku, menjawab rasa penasaranku mengenai suara misterius itu.

===================

Hingga saat ini, suara hantaman “kaki” itu masih beberapa kali terdengar. Tidak sering. Mungkin hanya dua atau tiga kali setiap bulannya.

Bukan hanya suara, pernah satu kali di saat aku sendirian di ruang kerjaku.

Saat itu sudah malam, rekan kerjaku pergi ke kamar kecil. Suasana jadi hening karna hanya ada aku di ruangan kerjaku. Tidak seperti biasa, aku merasa malam itu sedikit menegangkan untukku. Padahal seharusnya aku terbiasa. Karna memang aku bekerja disini cukup lama.

Aku mencoba bersenandung pelan untuk mengusir rasa takutku. Aku pikir itu membantu, tapi ternyata tidak. Terlebih saat ekor mataku melihat di sebelah kiriku terdapat asap hitam pekat yang melayang. Aku memberanikan diriku untuk melihat benda apa itu.

Dan ternyata memang benar, asap berwarna hitam pekat melayang di atas lemari kayu tempat dimana aku dan rekan kerjaku meletakkan tas-tas milik kami. Aku memperhatikan asap tersebut dengan baik, sangat aneh karna ruangan tempatku bekerja adalah ruang AC, tidak ada ventilasi udara disini. Bagaimana asap tersebut bisa masuk?

Hanya berselang sekitar 30 sampai 45 detik sejak aku memperhatikan asap tersebut, secara perlahan asap tersebut hilang. Hilang begitu saja tidak meninggalkan bekas. Aku terdiam, bertanya dalam hati, apa yang baru saja aku lihat.

Ketika aku sedang sibuk dengan pikiranku sendiri, rekan kerjaku kembali dari kamar kecil. Kemudian aku menceritakan apa yang baru saja aku lihat. Dia mempercayaiku, karna kami sama-sama tau bahwa bangunan tempat kami bekerja, terutama ruangan kami, memang di kenal menyeramkan.

==========================

Suatu ketika kran air di kamar kecil bocor, seniorku meminta salah satu rekan kerja dari divisi lain untuk meperbaikinya. Namanya bang Syaiful. Dia cukup ahli dalam memperbaiki sesuatu. Jadi untuk memperbaiki kran yang bocor ini bukan suatu masalah untuk dia. Kran air sudah diganti dengan  yang baru. Sudah tidak ada lagi air yang terbuang.

Malam harinya, aku memutuskan ke kamar kecil untuk memenuhi panggilan ‘alam’. Setelah selesai, aku bergegas keluar kamar kecil untuk kembali ke meja kerjaku. Tidak lupa, aku matikan kran air. Aku melangkahkan kakiku, hanya berselang satu langkah, aku mendengar suara air di kran kamar kecil yang baru aku singgahi.

“Oh..aku tutup krannya belum bener ya” Pikirku.

Aku masuk ke kamar kecil untuk mematikan kran air tersebut, aku pastikan sudah tidak ada lagi air yang menetes. Aku keluar kamar mandi, menginjakkan kakiku pada kain kering di bawah kakiku agar kakiku tidak basah lagi, sampai akhirnya aku mendengar seseorang berbisik di telinga kananku,

”Psst!”

Aku sangat terkejut, tidak ada siapapun di dekatku, kecuali aku. Aku takut, aku berlari menuju ruang kerjaku tanpa melihat ke belakang.

Siapapun itu, aku harap dia tidak menertawakanku.

Ludfi Marsudiana.

 

Karna Aku Tidak Sendiri

Empat tahun lalu, ketika aku duduk di kelas 3 SMK. Aku punya teman sebangku, namanya Khoirunnisya, biasa dipanggil Anis. Kami berteman sejak kelas 1 SMK. Anis memiliki keistimewaan, kemampuan khusus untuk melihat makhluk yang tidak bisa di lihat oleh mata orang pada biasanya. Jadi, dia lebih “peka” dengan sekitarnya.

Suatu hari aku sedang berbagi cerita seram berdua dengan Anis. Saat itu tidak ada guru yang mengajar, situasi siang hari, di dalam kelas kami, di lantai 2.

Anis bilang, “upi, kamu ada yang ikutin.”

Aku kaget, “hah? Siapa nis?”

Anis diam. Mungkin ragu apa dia harus memberitahuku atau tidak. Dia khawatir aku nantinya jadi takut. (Awalnya memang takut).

Kemudian dia cerita, “hmm cewek. Tante ‘K’. Tapi kayaknya dia baik deh pi hehe”

“Serius nis?”

“Iya pi.”

“Kenapa dia ngikutin lupi?”

“Dia ngikutin upi kayaknya dari kecil deh pi. Mungkin maksudnya mau melindungi”

“Terus?”

“Dulu pas pertama kali ‘ngeh’ kalo dia ternyata ngikutin upi, aku tanya ke dia “kamu ikutin siapa?” Dan dia nunjuk upi”

(Waktu denger ini, Rasanya badanku semuanya lemes. Kaget, takut, ingin menangis saat itu juga xD)

========

Kemudian aku menceritakan hal ini kepada temenku, lewat aplikasi chat Whatsapp. Sebut saja namanya Desi. Dia ini indigo.

Desi bilang saat aku sedang menceritakan hal ini kepadanya, desi bisa “lihat” siapa yang sedang kita bicarakan. Saat sedang cerita, aku dengan sengaja menyebut wujud tersebut. (Maksudnya nyebut kun….). Ternyata hal tersebut tidak baik untuk Desi.

Jadi, pada saat dia menyebutkan “wujud” suatu “makhluk” atau melihat wujud tersebut dari foto atau gambar, “makhluk” tersebut akan datang dan berada langsung di dekat Desi dimanapun dia berada. Oh..ya ampun. Saat itu aku membuat temanku berada dalam kesulitan.

Sambil chatting denganku via whatsapp, Desi bilang dia berbincang dengan “tante” tersebut. Desi bilang tante itu baik dan mau menjagaku. Aku diminta Desi untuk tenang dan menganggap tante itu tidak ada. (HAHAHA COBA ITU -___- )

=======

Memang sewaktu aku kecil, beberapa kali aku melihat perempuan yang tidak aku kenal, berjalan jalan di dalam rumah lamaku. Beberapa kali lihat “tante” itu ada mimpi juga.

Pernah satu kali aku bermimpi. Aku sedang ada di dalam rumah lamaku. Saat itu entah kenapa aku sangat tertarik untuk melihat ke atap rumah tetangga di depan rumahku. Aku melihat ada perempuan (ya kalian tau deh ya, baju daster putih dengan rambut hitam panjang) berdiri di atas atap rumah tetanggaku itu. Dia seperti menyadari kalau aku sedang melihat dia. Kemudian dia terbang, sambil tertawa khas.

Aku tidak tahu apa mereka ini “tante” yang sama, atau bukan. Dan aku juga tidak tau apakah tante ini masih bersamaku atau tidak. Jika masih, aku berharap dia masih memiliki tujuan baik, yaitu menjagaku. Jika tidak, tidak apa-apa.

Dulu sebelum aku tau hal ini, aku sering sekali merasa sendirian. Tapi setelah tau hal ini, aku sadar satu hal. Aku tidak pernah sendirian.

Terimakasih sudah membaca ceritaku.

Ludfi marsudiana.